Tadi baru ingat gara-gara nyimak twitnya nastiti. 7 tahun lalu adik saya nabila menghembuskan nafas terakhir karena sakit.
Kakak ila sakit. sel darah putihnya memangsa sel darah merahnya. Alat bantu medis dimana-mana.
Mendarat di jakarta. Bukannya ke rumah malah ke rumah sakit cipto saat itu. Itupun bukan dijemput papa ataupun ibu.
Sampai di rumah sakit. Liat kak ila yang biasanya semangat dan enerjik hanya bisa terbaring lemah lengkap dengan selang infus dan alat bantu medis lainnya.
Saya menangis. Gila saja!!! Anak sekecil itu harus menderita. Darah keluar dari hidung, telinga dan bibir sampe mengering. Badan kehitaman karena darah mati.
Saya tidak pulang ke rumah. Saya tinggal disana. Menemani papa dan ibu jaga nabila. Tak tega juga liat mereka sedih bercampur letih
Hari-hari itu bikin saya terkagum-kagum sama papa dan ibu. Bersyukur punya papa dan ibu yang kuat dan tabah seperti itu.
Ibu yang harus bolak balik jakarta bekasi misalnya. Itupun cuman naik kereta sama metro mini. Belum lg ngurus nastiti sm dinul juga.
Pas sekali temani ibu buat bolak balik ke jakarta bekasi. Satu yang kuingat. Wanita ini tangguh!
Papa malah lebih parah. Nyari duit buat biaya perawatan kakak ila. Apalagi kakak ila harus selalu butuh darah banyak yang harganya juga selangit.
Malah dulu pernah bareng papa harus larut malam kesana kemari naik bus sama bajaj nyari darah buat kakak ila karena tiba-tiba dia butuh.
Momen paling sedihnya? Pas papa sama ibu shalat sama-sama. Buat minta sama Allah kekuatan buat ikhlasin kakak ila sebelum mutusin mencabut semua alat bantu medis kakak ila.
Setelah itu, papa sama ibu setuju. Semua alat bantu dilepas. Kami siap melepas kak ila. Selalu melantunkan ayat suci disisinya.
Tepat hari ini. Larut malam juga seperti ini mungkin. kakak ila pergi. Dia pergi diantar tangisan ibu, papa, saya, serta orang-orang yang menjaganya.
Saat itu saya ikut ambulans yang antar kakak ila dari rumah sakit ke rumah. Cukup jauh. Cukup untuk percakapan terakhirku dengan jasadnya.
Kakak ila ingat? Saat itu saya benar-benar minta maaf sama kakak ila. Belum bisa jadi kakak yang baik buat kakak ila. Belum bisa ngasih apa-apa.
Malah saya belum bisa pengertian sama keterbatasannya kakak ila. Seperti pengertian papa ibu yang begitu sayang sama kakak ila bagaimanapun kakak ila.
Iya, saya memang kakak yang buruk.
Kakak ila tau tidak. Kalau misalnya sehabis saya dimarahin sama papa, saya selalu merasa kakak ila ada di dekat saya. Tenangkan saya.
Seolah-olah kakak ila nasehati dan bela saya. seperti waktu kakak ila lagi tenangin nastiti atau dinul yang lagi habis dibikin nangis.
Lengkap dengan suara khas dan gaya bicaranya kak ila. Yang kadang lebih mirip memarahi ketimbang menenangkan.
Sama kayak kakak ila yang lagi marahin papa karena papa ngerokok lagi. Sampai-sampai kakak ila tega patah-patahin rokok papa.
Kakak ila, tenang yah disana. Ada Tuhan yang selalu jaga kakak ila. Disana juga ada ibu lain kakak ila. Ibu saya. Jadi gak mungkin kesepian.
Ibu saya di surga, permintaan saya hari ini masih sama seperti tujuh tahun lalu ketika di ambulans. Jaga nabila adik saya disana. Anak ibu juga.
Sabtu, 29 Juni 2013
Jumat, 28 Juni 2013
Selamat jalan om aswar!
Pakaian serba hitam.
Sekedar memperlihatkan rasa kehilangan yang luar biasa.
Bukan maksud untuk menantang matahari.
Karena matahari pun tak begitu beringas hari ini.
Malahan langit terlihat begitu mendung hitam.
Mungkin sedang bersedih juga sepertiku.
Langit akan menangis sepertinya.
Kenapa begitu sekelam ini sekarang?
Ada penyesalan yang menelisikku.
Rasa bersalah.
Rasa merasa tak tahu berterima kasih.
Seorang paman.
Yang sebenarnya tak kuketahui ikatan keluargaku berasal darimana dan sedekat apa.
Perduli setan dengan itu.
Yang kuketahui hanya beliau salah satu orang yang berjasa untukku.
Totalitas dalam membantu!!!
.
Pernah ada kalimat yang beliau yang sampai sekarang masih kuingat.
"Saya tidak akan berhenti urus urusan kuliahmu sampai betul-betul selesai."
Dan menyisakan aku yang hanya termangu mencoba mencerna setiap kata yang keluar itu.
Dan akhirnya berujung pada satu pertanyaan.
Kenapa harus sampai setotal itu.
Memangnya saya pernah berbuat kebaikan apa sampai harus ditolong seperti itu.
Tidak ada bahkan.
ayolah, kita tidak hidup di zaman orang-orang yang tidak pamrih.
Lantas mengapa???
Hari setelah mendengar berita berpulangmu.
Kembali ke pangkuan Dia yang Maha Memiliki.
Menyatu menyempurna dengan Dia yang sempurna.
Kutermangu tak percaya.
Kenapa secepat ini?
Tuhan, aku bahkan belum mengucapkan terima kasih.
Belum menyampaikan permohonan maaf karena telah membuatnya repot.
Lantas apa yang bisa kuperbuat sebagai gantinya.
Menghidupi istri dan dua orang anaknya jelas tak mungkin.
Membiayai pemakamanmu saja aku tak mampu.
Bahkan bukan aku yang memandikanmu untuk terakhir kalinya.
Bukan aku yang mengangkat kerandamu dari rumahmu sampai ke rumah peristirahatan terakhirmu.
Om aswar, maaf aku tak sempat berterima kasih padamu.
Aku juga tak tahu harus membalasnya dengan apa.
Yang aku bisa hanya menangisimu.
Menemani jasadmu sampai tubuhmu tertelan oleh tanah.
Serta mendoakan tempat terbaik untukmu.
Berharap Tuhan mengganjarmu dengan nikmat disana.
Betulkan Tuhan???
Dia pantas kan jadi kekasihMu???
Bukankah sebaik-baik orang adalah orang yang bermanfaat bagi orang lainnya???
Bukankah sujud tertinggi seseorang adalah dengan membantu sesama???
Jadi tolonglah Tuhan.
Terima dia disisiMu.
Om aswar, sepertinya kita harus berpisah.
Aku harus pulang dan melanjutkan hidupku.
Tenang saja, urusan tentang kuliahku yang kita urus bersama akan tetap kulanjutkan.
Setidaknya menghargai usahamu yang sudah kamu lakukan.
Nanti kelak kita akan bertemu dibawah guyuran nikmatNya.
Semoga saja.
Selamat jalan om aswar!
Semoga Tuhan menjagamu disana.
Sekedar memperlihatkan rasa kehilangan yang luar biasa.
Bukan maksud untuk menantang matahari.
Karena matahari pun tak begitu beringas hari ini.
Malahan langit terlihat begitu mendung hitam.
Mungkin sedang bersedih juga sepertiku.
Langit akan menangis sepertinya.
Kenapa begitu sekelam ini sekarang?
Ada penyesalan yang menelisikku.
Rasa bersalah.
Rasa merasa tak tahu berterima kasih.
Seorang paman.
Yang sebenarnya tak kuketahui ikatan keluargaku berasal darimana dan sedekat apa.
Perduli setan dengan itu.
Yang kuketahui hanya beliau salah satu orang yang berjasa untukku.
Totalitas dalam membantu!!!
.
Pernah ada kalimat yang beliau yang sampai sekarang masih kuingat.
"Saya tidak akan berhenti urus urusan kuliahmu sampai betul-betul selesai."
Dan menyisakan aku yang hanya termangu mencoba mencerna setiap kata yang keluar itu.
Dan akhirnya berujung pada satu pertanyaan.
Kenapa harus sampai setotal itu.
Memangnya saya pernah berbuat kebaikan apa sampai harus ditolong seperti itu.
Tidak ada bahkan.
ayolah, kita tidak hidup di zaman orang-orang yang tidak pamrih.
Lantas mengapa???
Hari setelah mendengar berita berpulangmu.
Kembali ke pangkuan Dia yang Maha Memiliki.
Menyatu menyempurna dengan Dia yang sempurna.
Kutermangu tak percaya.
Kenapa secepat ini?
Tuhan, aku bahkan belum mengucapkan terima kasih.
Belum menyampaikan permohonan maaf karena telah membuatnya repot.
Lantas apa yang bisa kuperbuat sebagai gantinya.
Menghidupi istri dan dua orang anaknya jelas tak mungkin.
Membiayai pemakamanmu saja aku tak mampu.
Bahkan bukan aku yang memandikanmu untuk terakhir kalinya.
Bukan aku yang mengangkat kerandamu dari rumahmu sampai ke rumah peristirahatan terakhirmu.
Om aswar, maaf aku tak sempat berterima kasih padamu.
Aku juga tak tahu harus membalasnya dengan apa.
Yang aku bisa hanya menangisimu.
Menemani jasadmu sampai tubuhmu tertelan oleh tanah.
Serta mendoakan tempat terbaik untukmu.
Berharap Tuhan mengganjarmu dengan nikmat disana.
Betulkan Tuhan???
Dia pantas kan jadi kekasihMu???
Bukankah sebaik-baik orang adalah orang yang bermanfaat bagi orang lainnya???
Bukankah sujud tertinggi seseorang adalah dengan membantu sesama???
Jadi tolonglah Tuhan.
Terima dia disisiMu.
Om aswar, sepertinya kita harus berpisah.
Aku harus pulang dan melanjutkan hidupku.
Tenang saja, urusan tentang kuliahku yang kita urus bersama akan tetap kulanjutkan.
Setidaknya menghargai usahamu yang sudah kamu lakukan.
Nanti kelak kita akan bertemu dibawah guyuran nikmatNya.
Semoga saja.
Selamat jalan om aswar!
Semoga Tuhan menjagamu disana.
Selasa, 28 Mei 2013
Pa, sudahkah kamu mengecek kalender hari ini?
Pa, tahukah kamu hari ini hari apa?
Rabu? Iya, tapi bukan itu maksudku.
Sudahkah kamu mengecek kalendermu hari ini?
Apakah ada tanda disana?
Ah, semoga saja ada.
Sudahlah, lebih baik aku memberitahukanmu saja langsung.
Hari ini tanggal 29 mei 2013.
Ulang tahunku.
Iya benar, hari kelahiranku.
23 tahun silam di rumah sakit harapan kita jakarta tepatnya.
Hari dimana kamu kedatangan seorang anak yang membuatmu bersusah payah mencari uang untuk membayar persalinannya mungkin.
Anak yang tak pernah kamu sangka bakal menjadi sebobrok ini.
Pa, apakah kamu tak ingat?
Sedih juga rasanya.
Tapi tak apalah.
Aku bisa memakluminya.
Dan aku sama sekali tak berekspektasi tinggi.
Kan aku cuman seorang anak yang sebenarnya sudah tak pantas kamu anggap anak lagi.
Ini ulang tahunku, pa.
Bisa saja aku memintamu membelikan hal-hal yang kuinginkan saat ini.
Kamera dslr? Handphone baru? Laptop baru? PS 3?
Walaupun sebenarnya aku mau barang-barang itu..
Tapi tak usahlah.
Aku sadar diri.
Bukan, bukan karena aku takut dicap seperti anak-anak.
Tapi karena aku sadar diri.
Mana pantas seorang anak yang sudah kamu cap kurang ajar ini meminta itu semua.
Bahkan untuk uang bulanan pun aku enggan meminta.
Aku lebih memilih menunggu belas kasihmu saja.
Aku malu, pa.
Umurku sekarang 23 tahun.
Umur yang tak muda lagi.
Umur yang seharusnya sudah bisa mandiri.
Tak lagi bergantung padamu.
Sudah sarjana.
Bukannya malah putus kuliah dan membuatmu malu.
Harusnya sudah bekerja.
Memberikanmu hadiah dari gaji pertamaku.
Membelikan pulsa tiap bulannya untuk dua adikku.
Bukan malah dikirimi uang tiap bulannya.
Pa, kalau boleh saya minta sesuatu.
Aku cuman ingin satu hal.
Tenang saja, aku tak akan meminta barang-barang tadi yang kusebut.
Aku cuman akan meminta sebuah pesan singkat.
Benar, sebuah pesan singkat.
Sebuah pesan singkat yang berisi ucapan selamat ulang tahun darimu.
Pesan singkat yang berisi doa-doamu pada Tuhan untukku.
Doa yang pastinya bakal membuatku bersemangat lagi.
Menata kembali hidupku yang sudah kubuat begtu berantakan.
Berusaha untuk membuatmu kembali bangga punya anak sepertiku.
Rabu? Iya, tapi bukan itu maksudku.
Sudahkah kamu mengecek kalendermu hari ini?
Apakah ada tanda disana?
Ah, semoga saja ada.
Sudahlah, lebih baik aku memberitahukanmu saja langsung.
Hari ini tanggal 29 mei 2013.
Ulang tahunku.
Iya benar, hari kelahiranku.
23 tahun silam di rumah sakit harapan kita jakarta tepatnya.
Hari dimana kamu kedatangan seorang anak yang membuatmu bersusah payah mencari uang untuk membayar persalinannya mungkin.
Anak yang tak pernah kamu sangka bakal menjadi sebobrok ini.
Pa, apakah kamu tak ingat?
Sedih juga rasanya.
Tapi tak apalah.
Aku bisa memakluminya.
Dan aku sama sekali tak berekspektasi tinggi.
Kan aku cuman seorang anak yang sebenarnya sudah tak pantas kamu anggap anak lagi.
Ini ulang tahunku, pa.
Bisa saja aku memintamu membelikan hal-hal yang kuinginkan saat ini.
Kamera dslr? Handphone baru? Laptop baru? PS 3?
Walaupun sebenarnya aku mau barang-barang itu..
Tapi tak usahlah.
Aku sadar diri.
Bukan, bukan karena aku takut dicap seperti anak-anak.
Tapi karena aku sadar diri.
Mana pantas seorang anak yang sudah kamu cap kurang ajar ini meminta itu semua.
Bahkan untuk uang bulanan pun aku enggan meminta.
Aku lebih memilih menunggu belas kasihmu saja.
Aku malu, pa.
Umurku sekarang 23 tahun.
Umur yang tak muda lagi.
Umur yang seharusnya sudah bisa mandiri.
Tak lagi bergantung padamu.
Sudah sarjana.
Bukannya malah putus kuliah dan membuatmu malu.
Harusnya sudah bekerja.
Memberikanmu hadiah dari gaji pertamaku.
Membelikan pulsa tiap bulannya untuk dua adikku.
Bukan malah dikirimi uang tiap bulannya.
Pa, kalau boleh saya minta sesuatu.
Aku cuman ingin satu hal.
Tenang saja, aku tak akan meminta barang-barang tadi yang kusebut.
Aku cuman akan meminta sebuah pesan singkat.
Benar, sebuah pesan singkat.
Sebuah pesan singkat yang berisi ucapan selamat ulang tahun darimu.
Pesan singkat yang berisi doa-doamu pada Tuhan untukku.
Doa yang pastinya bakal membuatku bersemangat lagi.
Menata kembali hidupku yang sudah kubuat begtu berantakan.
Berusaha untuk membuatmu kembali bangga punya anak sepertiku.
Senin, 13 Mei 2013
persembahan untuk Mr. 8 community (aku merindukan kalian)
Kurang lima tahun yang lalu.
Berkumpullah para manusia yang berbeda dalam satu wadah.
Berbeda dalam kultur, karakter, latar belakang, serta cita-cita.
Diajarkan tentang makna kebersamaan serta persaudaraan.
Dan proses interaksi pun terjadi.
Waktu demi waktu dilewati bersama.
Ada keluguan, ketololan, canda tawa, tangisan, amarah, serta kasih sayang.
Membentuk dinamika yang amat sangat kompleks.
Serta disatukan dalam kalimat “karena cinta, aku ada”.
Seiring berlalunya sang waktu.
Makhluk-makhluk lugu nan polos itu pun ikut berubah.
Bermetamorfosis menjadi warna masing-masing.
Membentuk pribadi kuat hasil tempaan dari dilema yang datang silih berganti.
Sudah berani berbicara lantang dengan bahasa yang tinggi.
Kritis melihat keadaan sekitar serta mampu membaca situasi.
Keluguan serta kepolosan yang dulu telah berganti dengan intelektual yang tinggi.
Namun jauh melihat ke belakang.
Menyaksikan potret-potret kenangan yang telah tergores.
Raut wajah serta tingkah laku yang dulu telah sirna.
Kerinduan akan itu pun ikut muncul.
Ingin rasanya melihat para manusia itu ketika masih dalam keadaan “polos”.
Tanpa segala embel-embel status serta apapun itu yang tak penting.
Yang ditahu hanya semua adalah saudara.
Entahlah apakah waktu dapat diputar kembali.
Yang jelasnya waktu dengan otoriternya seakan-akan ingin memisahkan.
Dan sadarlah waktu akan terus berjalan.
Dan itu berbanding lurus dengan berkurangnya intensitas momen kebersamaan yang bisa tercipta.
Semakin melebarkan jarak yang ada.
Tapi ketahuilah.
Momen-momen indah bersama itu akan terus terekam.
Mempunyai tempat tersendiri di dalam memori.
Karena tak ada kamus yang menuliskan mantan saudara.
Saudara akan tetap selamanya akan menjadi saudara.
Persembahan untuk kalian.
Para manusia yang berkumpul dalam satu wadah.
Chemistry Two Thousand and Eight.
Berkumpullah para manusia yang berbeda dalam satu wadah.
Berbeda dalam kultur, karakter, latar belakang, serta cita-cita.
Diajarkan tentang makna kebersamaan serta persaudaraan.
Dan proses interaksi pun terjadi.
Waktu demi waktu dilewati bersama.
Ada keluguan, ketololan, canda tawa, tangisan, amarah, serta kasih sayang.
Membentuk dinamika yang amat sangat kompleks.
Serta disatukan dalam kalimat “karena cinta, aku ada”.
Seiring berlalunya sang waktu.
Makhluk-makhluk lugu nan polos itu pun ikut berubah.
Bermetamorfosis menjadi warna masing-masing.
Membentuk pribadi kuat hasil tempaan dari dilema yang datang silih berganti.
Sudah berani berbicara lantang dengan bahasa yang tinggi.
Kritis melihat keadaan sekitar serta mampu membaca situasi.
Keluguan serta kepolosan yang dulu telah berganti dengan intelektual yang tinggi.
Namun jauh melihat ke belakang.
Menyaksikan potret-potret kenangan yang telah tergores.
Raut wajah serta tingkah laku yang dulu telah sirna.
Kerinduan akan itu pun ikut muncul.
Ingin rasanya melihat para manusia itu ketika masih dalam keadaan “polos”.
Tanpa segala embel-embel status serta apapun itu yang tak penting.
Yang ditahu hanya semua adalah saudara.
Entahlah apakah waktu dapat diputar kembali.
Yang jelasnya waktu dengan otoriternya seakan-akan ingin memisahkan.
Dan sadarlah waktu akan terus berjalan.
Dan itu berbanding lurus dengan berkurangnya intensitas momen kebersamaan yang bisa tercipta.
Semakin melebarkan jarak yang ada.
Tapi ketahuilah.
Momen-momen indah bersama itu akan terus terekam.
Mempunyai tempat tersendiri di dalam memori.
Karena tak ada kamus yang menuliskan mantan saudara.
Saudara akan tetap selamanya akan menjadi saudara.
Persembahan untuk kalian.
Para manusia yang berkumpul dalam satu wadah.
Chemistry Two Thousand and Eight.
surat untuk tuhan kecil di lembaga kemahasiswaan
yang terhormat,
dikau yang merasa seperti tuhan.
mencoba mengatur semua di dalam kuasamu.
seakan-akan lembaga ini berada di genggamanmu.
menjadi sangat tidak bijaksana.
mungkin tuhan kecil sudah tahu.
kalau teori struktur fungsional bilang bahwa setiap individu mempunyai posisi dalam struktur di sebuah sistem.
dan masing-masing struktur mempunyai fungsinya sendiri-sendiri.
dan kekacauan akan terjadi jika salah satu struktur tidak menjalankan fungsinya ataupun mengambil alih fungsi struktur lainnya.
maka agar menjaga kestabilan sistem kelembagaan ini.
biarkanlah masing-masing struktur menjalankan fungsinya masing-masing.
bukankah itu juga menjadi proses pengkaderan bagi tiap individu di masing-masing struktur.
kami tahu, tuhan kecil punya pengalaman yang lebih.
kami juga tahu bahwa tuhan kecil sudah melewati ini semua.
tapi tuhan kecil juga pasti tahu kalau misalnya langkah kami sering didikte maka kami tak akan dapat pelajaran apa-apa.
lantas apa yang akan kami ajarkan jika kami nantinya menjadi tuhan kecil yang baru?
maka jelas akan ada nilai yang putus di generasi kami.
tolonglah...
beri kebebasan.
kami bukannya tak bisa lepas dari kuasamu.
bukankah menurut teori definisi sosial setiap manusia itu kreatif dan punya kebebasan untuk lepas dari fakta sosial yang mengungkungnya.
tapi kami masih menghormatimu.
menghormatimu sebagai orang yang pernah menananmkan nilai-nilai luhur kepada kami.
mengajarkan semua hal yang engkau ketahui.
sekian surat ini.
bukannya menggurui namun sekedar mengemukakan pendapat.
mohon maafkan jika ternyata sudut pandang yang digunakan salah.
hormat kami,
Adikmu.
dikau yang merasa seperti tuhan.
mencoba mengatur semua di dalam kuasamu.
seakan-akan lembaga ini berada di genggamanmu.
menjadi sangat tidak bijaksana.
mungkin tuhan kecil sudah tahu.
kalau teori struktur fungsional bilang bahwa setiap individu mempunyai posisi dalam struktur di sebuah sistem.
dan masing-masing struktur mempunyai fungsinya sendiri-sendiri.
dan kekacauan akan terjadi jika salah satu struktur tidak menjalankan fungsinya ataupun mengambil alih fungsi struktur lainnya.
maka agar menjaga kestabilan sistem kelembagaan ini.
biarkanlah masing-masing struktur menjalankan fungsinya masing-masing.
bukankah itu juga menjadi proses pengkaderan bagi tiap individu di masing-masing struktur.
kami tahu, tuhan kecil punya pengalaman yang lebih.
kami juga tahu bahwa tuhan kecil sudah melewati ini semua.
tapi tuhan kecil juga pasti tahu kalau misalnya langkah kami sering didikte maka kami tak akan dapat pelajaran apa-apa.
lantas apa yang akan kami ajarkan jika kami nantinya menjadi tuhan kecil yang baru?
maka jelas akan ada nilai yang putus di generasi kami.
tolonglah...
beri kebebasan.
kami bukannya tak bisa lepas dari kuasamu.
bukankah menurut teori definisi sosial setiap manusia itu kreatif dan punya kebebasan untuk lepas dari fakta sosial yang mengungkungnya.
tapi kami masih menghormatimu.
menghormatimu sebagai orang yang pernah menananmkan nilai-nilai luhur kepada kami.
mengajarkan semua hal yang engkau ketahui.
sekian surat ini.
bukannya menggurui namun sekedar mengemukakan pendapat.
mohon maafkan jika ternyata sudut pandang yang digunakan salah.
hormat kami,
Adikmu.
Rabu, 08 Mei 2013
Sepenggal surat lainnya
Nak, mendekatlah kesini.
Ayah punya cerita untukmu.
Ayah ingin berbagi kisah masa lalu ayah.
Masa lalu ketika ayah masih duduk di bangku kuliah.
Masa yang telah ayah lalui dan kelak akan kamu lalui juga.
Nak, kamu boleh berbangga.
Ayahmu ini adalah salah satu mahasiswa berprestasi di zamannya.
Betapa tidak, ayah berhasil menyelesaikan studi ayah hanya dalam tempo 3 tahun setengah.
Nilai ayah pun sangat fantastis.
Ayah berhasil menjadi sarjana berpredikat cum laude dengan IPK 3,9.
Prestasi yang tidak semua mahasiswa mampu mencapainya.
Nak, dulu waktu ayah masih menjadi mahasiswa.
Hari-hari ayah selalu bergelut dengan kuliah.
Bercengkrama dengan buku-buku kuliah.
Menghabiskan waktu ayah di kelas ataupun di perpustakaan.
Tak ada waktu untuk dibuang percuma.
Apalagi hanya dipakai untuk bersenda gurau.
Ayah lebih memilih untuk berpikir bagaimana caranya agar ayah menjadi nomor satu.
Nak, cuman satu permohonan ayah untukmu.
jangan kamu bertanya tentang bagaimana kisah pergaulan ayah di kampus karena ayah tak punya.
Jangan kamu bertanya tentang kisah cinta ayah di kampus karena ayah tak pernah.
Jangan kamu meminta ayah untuk bercerita tentang kisah heroik ayah yang memperjuangkan nasib rakyat karena ayah tak bisa.
Dan jangan pernah bertanya tentang wacana-wacana kebangsaan kepada ayah karena ayah tak tahu.
Iya nak, kamu benar.
Kisah dunia kampus ayah sangat tak menarik.
Ibaratkan film yang ceritanya sangat monoton.
Ayah mewarnai kanvas kehidupan kampus ayah hanya dengan satu warna saja.
Terlalu terpaku terhadap goresan angka di atas sehelai kertas.
Ayah lupa belajar tentang persahabatan.
Ayah lupa belajar tentang keperdulian.
Ayah lupa belajar tentang kemanusiaan.
Serta ayah lupa belajar tentang cinta kasih.
Pelajaran-pelajaran yang tak pernah diajarkan oleh dosen ayah.
Pelajaran-pelajaran yang tak tercantum di atas kertas nilai ayah.
Nak, lihatlah sekarang.
Ayah tak siap menghadapi kehidupan yang sebenarnya.
Ayah lupa untuk 'mendunia' di 'miniatur kehidupan'.
Miniatur kehidupan yang bernama dunia kampus.
Sehingga membuat ayah jadi kehilangan daya saing.
Sehingga ayah terlindas oleh zaman.
Memang benar kata orang.
Belajar adalah tugas mulia seorang mahasiswa.
Tapi bukankah belajar tidak hanya bisa dilakukan dalam kelas?Belajar tidak hanya bisa dengan menggunakan diktat-diktat kuliah?
Banyak hal yang bisa kamu pelajari di dunia kampus nak.
Kampus bisa mengajarkan makna lain dari kehidupan.
Pelajaran bahwa kehidupan bukan soal kompetisi.
Bukan hanya tentang kuliah, kerja, kawin, serta berakhir di kuburan.
Kampus mengajarkan hidup itu tentang berbagi.
Ya,hidup itu tentang bagaimana kamu tersenyum, dia tersenyum, dan mereka tersenyum.
Ayah punya cerita untukmu.
Ayah ingin berbagi kisah masa lalu ayah.
Masa lalu ketika ayah masih duduk di bangku kuliah.
Masa yang telah ayah lalui dan kelak akan kamu lalui juga.
Nak, kamu boleh berbangga.
Ayahmu ini adalah salah satu mahasiswa berprestasi di zamannya.
Betapa tidak, ayah berhasil menyelesaikan studi ayah hanya dalam tempo 3 tahun setengah.
Nilai ayah pun sangat fantastis.
Ayah berhasil menjadi sarjana berpredikat cum laude dengan IPK 3,9.
Prestasi yang tidak semua mahasiswa mampu mencapainya.
Nak, dulu waktu ayah masih menjadi mahasiswa.
Hari-hari ayah selalu bergelut dengan kuliah.
Bercengkrama dengan buku-buku kuliah.
Menghabiskan waktu ayah di kelas ataupun di perpustakaan.
Tak ada waktu untuk dibuang percuma.
Apalagi hanya dipakai untuk bersenda gurau.
Ayah lebih memilih untuk berpikir bagaimana caranya agar ayah menjadi nomor satu.
Nak, cuman satu permohonan ayah untukmu.
jangan kamu bertanya tentang bagaimana kisah pergaulan ayah di kampus karena ayah tak punya.
Jangan kamu bertanya tentang kisah cinta ayah di kampus karena ayah tak pernah.
Jangan kamu meminta ayah untuk bercerita tentang kisah heroik ayah yang memperjuangkan nasib rakyat karena ayah tak bisa.
Dan jangan pernah bertanya tentang wacana-wacana kebangsaan kepada ayah karena ayah tak tahu.
Iya nak, kamu benar.
Kisah dunia kampus ayah sangat tak menarik.
Ibaratkan film yang ceritanya sangat monoton.
Ayah mewarnai kanvas kehidupan kampus ayah hanya dengan satu warna saja.
Terlalu terpaku terhadap goresan angka di atas sehelai kertas.
Ayah lupa belajar tentang persahabatan.
Ayah lupa belajar tentang keperdulian.
Ayah lupa belajar tentang kemanusiaan.
Serta ayah lupa belajar tentang cinta kasih.
Pelajaran-pelajaran yang tak pernah diajarkan oleh dosen ayah.
Pelajaran-pelajaran yang tak tercantum di atas kertas nilai ayah.
Nak, lihatlah sekarang.
Ayah tak siap menghadapi kehidupan yang sebenarnya.
Ayah lupa untuk 'mendunia' di 'miniatur kehidupan'.
Miniatur kehidupan yang bernama dunia kampus.
Sehingga membuat ayah jadi kehilangan daya saing.
Sehingga ayah terlindas oleh zaman.
Memang benar kata orang.
Belajar adalah tugas mulia seorang mahasiswa.
Tapi bukankah belajar tidak hanya bisa dilakukan dalam kelas?Belajar tidak hanya bisa dengan menggunakan diktat-diktat kuliah?
Banyak hal yang bisa kamu pelajari di dunia kampus nak.
Kampus bisa mengajarkan makna lain dari kehidupan.
Pelajaran bahwa kehidupan bukan soal kompetisi.
Bukan hanya tentang kuliah, kerja, kawin, serta berakhir di kuburan.
Kampus mengajarkan hidup itu tentang berbagi.
Ya,hidup itu tentang bagaimana kamu tersenyum, dia tersenyum, dan mereka tersenyum.
surat untukmu wahai aktivis
Orang bilang anakku seorang aktivis .
Kata mereka namanya tersohor di kampusnya sana .
Orang bilang anakku seorang aktivis.
Dengan segudang kesibukan yang disebutnya amanah umat .
Orang bilang anakku seorang aktivis .
Tapi bolehkah aku sampaikan padamu nak ?
Ibu bilang engkau hanya seorang putra kecil ibu yang lugu.
Anakku,sejak mereka bilang engkau seorang aktivis ibu kembali mematut diri menjadi ibu seorang aktivis .
Dengan segala kesibukkanmu,ibu berusaha mengerti betapa engkau ingin agar waktumu terisi dengan segala yang bermanfaat.
Ibu sungguh mengerti itu nak, tapi apakah menghabiskan waktu dengan ibumu ini adalah sesuatu yang sia-sia nak ?
Sungguh setengah dari umur ibu telah ibu habiskan untuk membesarkan dan menghabiskan waktu bersamamu nak.
tanpa pernah ibu berfikir bahwa itu adalah waktu yang sia-sia.
Anakku,kita memang berada di satu atap nak .
di atap yang sama saat dulu engkau bermanja dengan ibumu ini .
Tapi kini di manakah rumahmu nak?
ibu tak lagi melihat jiwamu di rumah ini .
Sepanjang hari ibu tunggu kehadiranmu di rumah.
dengan penuh doa agar Allah senantiasa menjagamu .
Larut malam engkau kembali dengan wajah kusut.
Mungkin tawamu telah habis hari ini .
tapi ibu berharap engkau sudi mengukir senyum untuk ibu yang begitu merindukanmu .
Ah,lagi-lagi ibu terpaksa harus mengerti.
bahwa engkau begitu lelah dengan segala aktivitasmu hingga tak mampu lagi tersenyum untuk ibu .
Atau jangankan untuk tersenyum,sekedar untuk mengalihkan pandangan pada ibumu saja engkau enggan.
katamu engkau sedang sibuk mengejar deadline.
Padahal andai kau tahu nak,ibu ingin sekali mendengar segala kegiatanmu hari ini.
memastikan engkau baik-baik saja.
memberi sedikit nasehat yang ibu yakin engkau pasti lebih tahu.
Ibu memang bukan aktivis sekaliber engkau nak,tapi bukankah aku ini ibumu ?
yang 9 bulan waktumu engkau habiskan didalam rahimku..
Anakku, ibu mendengar engkau sedang begitu sibuk nak.
Nampaknya engkau begitu mengkhawatirkan nasib organisasimu.
engkau mengatur segala strategi untuk mengkader anggotamu .
Engkau nampak amat peduli dengan semua itu.
ibu bangga padamu .
Namun,sebagian hati ibu mulai bertanya nak.
kapan terakhir engkau menanyakan kabar ibumu ini nak ?
Apakah engkau mengkhawatirkan ibu seperti engkau mengkhawatirkan keberhasilan acaramu ?
kapan terakhir engkau menanyakan keadaan adik-adikmu nak ?
Apakah adik-adikmu ini tidak lebih penting dari anggota organisasimu nak ?
Anakku,ibu sungguh sedih mendengar ucapanmu.
Saat engkau merasa sangat tidak produktif ketika harus menghabiskan waktu dengan keluargamu .
Memang nak,menghabiskan waktu dengan keluargamu tak akan menyelesaikan tumpukan tugas yang harus kau buat .
tak juga menyelesaikan berbagai amanah yang harus kau lakukan .
Tapi bukankah keluargamu ini adalah tugasmu juga nak?
bukankah keluargamu ini adalah amanahmu yang juga harus kau jaga nak?
Anakku,ibu mencoba membuka buku agendamu .
Buku agenda sang aktivis.
Jadwalmu begitu padat nak .
ada rapat disana sini,ada jadwal mengkaji,ada jadwal bertemu dengan tokoh-tokoh penting.
Ibu membuka lembar demi lembarnya .
disana ada sekumpulan agendamu,ada sekumpulan mimpi dan harapanmu.
Ibu membuka lagi lembar demi lembarnya .
masih saja ibu berharap bahwa nama ibu ada disana.
Ternyata memang tak ada nak.
tak ada agenda untuk bersama ibumu yang renta ini.
Tak ada cita-cita untuk ibumu ini .
Padahal nak,andai engkau tahu sejak kau ada di rahim ibu tak ada cita dan agenda yang lebih penting untuk ibu selain cita dan agenda untukmu,putra kecilku..
Kalau boleh ibu meminjam bahasa mereka .
mereka bilang engkau seorang organisatoris yang profesional.
Boleh ibu bertanya nak,di mana profesionalitasmu untuk ibu ?
di mana profesionalitasmu untuk keluarga ?
Di mana engkau letakkan keluargamu dalam skala prioritas yang kau buat ?
Ah,waktumu terlalu mahal nak.
Sampai-sampai ibu tak lagi mampu untuk membeli waktumu agar engkau bisa bersama ibu..
Setiap pertemuan pasti akan menemukan akhirnya.
Pun pertemuan dengan orang tercinta,ibu,ayah,kaka dan adik .
Akhirnya tak mundur sedetik tak maju sedetik .
Dan hingga saat itu datang,jangan sampai yang tersisa hanyalah penyesalan.
Tentang rasa cinta untuk mereka yang juga masih malu tuk diucapkan .
Tentang rindu kebersamaan yang terlambat teruntai.
Selamat hari pendidikan Indonesia!
Beberapa puluh tahun lalu, dunia pendidikan pernah digemparkan dengan kehadiran seorang pemikir pendidikan revolusioner yang pikiran-pikirannya dipenuhi dengan gagasan-gagasan meletup-letup lagi mencengangkan. Dialah Ivan Illich, seorang pemikir besar kelahiran Wina tahun 1926, yang mempunyai latar belakang pendidikan teologi dan kemudian menjadi seorang rohaniawan Katolik penuh kontroversi. Pikiran-pikirannya dapat ditelusuri melalui beberapa karya yang telah ditulisnya. Penelusuran terhadap karya-karyanya ini menjadi demikian penting bagi generasi-generasi sepeninggalnya untuk secara arif menyikapi serta mengkritisi setiap gagasan yang dicetuskannya. Penulis menganggap proses kreatif ini, dengan menyelami serta mengkritisi, akan menemukan signifikansinya ketika dipahami dalam kerangka historis pada waktu pemikiran Illich lahir dan kemudian dikontekstualisasikan dalam masa sekarang.
Pemikiran yang akan disoroti dalam tulisan ini, adalah pemikiran pendidikan Ivan Illich dalam buku kontroversialnya yang berjudul “Deschooling Society”. Tentu saja penulis tidak akan terlalu jauh membahas setiap detil gagasan Illich, disebabkan luasnya gagasan-gagasan yang telah ia tuangkan dalam buku tersebut. Buku yang ditulis Illich dalam rangka mengkritisi praktek kemapanan pendidikan yang selama beberapa tahun diselenggarakan oleh sekolah ini, dianggap sangat berbahaya oleh beberapa pihak. Ia dianggap telah menyadarkan masyarakat akan urgensi peninjauan ulang beberapa konsep yang selama ini dianggap mapan oleh sebagian besar masyarakat. Ivan Illich memang berbeda dengan beberapa pemikir pendidikan lainnya seperti Paulo Freire. Ivan dianggap bukan sebagai pemikir yang memiliki massa (baca: pengikut) seperti layaknya Freire. Pemikiran-pemikiran Freire diikuti oleh banyak orang dikarenakan mempunyai target yang jelas, yaitu kaum tertindas (proletar dalam bahasa Marx) yang termarjinalkan oleh praktek pendidikan yang memang tidak adil lagi sangat menindas. Namun pemikiran Illich tetap penting dan, tentu saja, tetap menarik untuk dikaji.
Melucuti kemapanan sekolah adalah tujuan awal dan gagasan pokok yang kemudian Illich tuangkan dalam tulisan-tulisannya. Sekolah, dalam pandangan Illich, adalah lembaga pendidikan yang membagi masyarakat ke dalam kelas-kelas sosial yang sangat tidak egaliter lagi diskriminatif. Sekolah dianggap sebagai lembaga pendidikan dalam era industri yang telah menjadi sedemikian mekanistik namun memperkurus kemanusiaan (dehumanisasi – meminjam istilah Freire). Penyelenggaraan pendidikan oleh sekolah merupakan praksis yang tidak sebangun dengan pendidikan itu sendiri. Murid-murid sekolah kemudian mempunyai logika baru; belajar dianggap sebagai hasil proses pembelajaran yang diadakan oleh sekolah, semakin banyak pengajaran maka semakin banyak hasilnya, menambah materi maka akan semakin mempermudah keberhasilan. Illich menggedor kesadaran masyarakat untuk segera melakukan revolusi budaya, yakni dengan menguji mitos-mitos yang ada dalam lembaga sosial secara radikal yang selama ini telah mapan dalam pandangan masyarakat.
Mayoritas penduduk dalam negara-negara seperti Brasil, Meksiko, Argentina, dan negara-negara Amerika Latin lainnya, dalam pandangan Illich, berada dalam keterkungkungan sekolah. Penduduk ini disekolahkan karena merasa rendah diri dengan terhadap mereka yang. mendapat pendidikan sekolah yang lebih baik. Anehnya, menurut Illich, keyakinan bahwa pendidikan melalui sekolah secara universal mutlak diperlukan justru begitu kuat dianut negara dimana sangat sedikit orang yang telah – dan akan – mengenyam bangku sekolah.
Benar bahwa pengajaran mempunyai andil dalam penciptaan proses belajar dalam waktu dan situasi tertentu. Namun hal ini bukan lalu berarti bahwa hanya pengajaran an sich yang bisa menciptakan proses belajar. Banyak orang yang bisa membaca dan senang membaca beranggapan bahwa mereka bisa dan senang membaca karena sekolah, namun ketika mereka ditanya secara langsung mengenai hal ini, mereka akan melepaskan ilusi ini. Fakta yang ada malah menunjukkan bahwa kebanyakan orang mendapatkan banyak pengetahuan yang berguna justru di luar pengajaran yang telah diprogram sebelumnya.
Salah satu permasalahan yang disoroti Illich adalah mengenai legitimasi yang diberikan sekolah terhadap ketrampilan yang dimiliki oleh seseorang yang telah lulus dari sekolah. Orang yang telah mengenyam pendidikan di sekolah dianggap telah memiliki ketrampilan yang memadai yang ditandai dengan diberikannnya ijazah oleh sekolah. Dalam pandangan Illich, sekolah telah memonopoli ketrampilan/peran sosial yang seharusnya tidak dilakukannya. Sekolah telah menyingkirkan orang-orang yang tidak setuju dengan pandangannya. Sekolah hanya melayani kepentingan segelintir masyarakat yang konsumtif-konsumeristik.dengan mencetak serta memasok tukang-tukang yang bisa diberikan instruksi untuk berbuat sesuai dengan keinginan sekolah. Masyarakat telah “dipaksa” untuk selalu tunduk pada diskriminasi yang didasarkan atas sertifikat atau ijazah mengenai ketrampilan yang dimiliki seseorang. Maka kemudian dengan secara tegas, Illich menyatakan “ School, invariably, shapes the consumer who values institutional commodities above the nonprofessional ministration of a neighbor”. Fenomena inilah yang kemudian menjadi dasar pijakan bagi Illich untuk menyatakan bahwa sekolah telah melakukan praktek-prektek pendidikan yang diskriminatif.
Satu hal yang bisa jadi tidak disadari Illich adalah pernyataannya mengenai tindakan diskriminatif sekolah terhadap anak usia sekolah. Dalam pandangan penulis, pembagian anak usia sekolah ke dalam kelas yang berbeda-beda memang dibutuhkan. Karena hal ini sesuai dengan kondisi psikologis anak yang memang berbeda-beda dan, tentu saja, membutuhkan treatment yang berbeda-beda pula. Sehingga bisa dikatakan bahwa konklusi Illich dalam perpsektif psikologi tidak bisa dibenarkan. Dengan demikian, tesis Illich memang bisa dibenarkan sebagian, dan tidak bisa dibenarkan dalam beberapa hal. Namun setidaknya, lagi-lagi, Illich memang telah menyadarkan kita mengenai hal-hal yang tidak kita duga sebelumnya mengenai sekolah.
Kasus Indonesia yang mungkin bisa dianggap relevan dengan kritikan Illich adalah permasalahan yang saat ini masih digodok oleh decision maker yang berkenaan dengan sertifikasi guru. Dunia pendidikan Indonesia merupakan dunia problematis lagi kompleks. Sebagaimana pernah dilaporkan dalam salah satu TV swasta bahwa guru yang telah benar-benar memenuhi sertifikasi yang ditetapkan pemerintah hanyalah sekitar 31% (data per Desember 2006). Dan membutuhkan waktu yang lama untuk bisa men”sertifikasi’kan seluruh guru di negeri ini.
Memang realita yang ada di Indonesia berbeda dengan realita yang dihadapi Illich pada waktu itu. Tesis Illich telah sampai pada kesimpulan bahwa sekolah sebagai lembaga pendidikan telah menyebabkan langkanya ketrampilan. Sebagaimana dinyatakan oleh Illich “….Skill teachers are made scarce by the belief in the value of licenses. Certification constitutes a form of market manipulation and is plausible only to a schooled mind. Most teachers of arts and trades are less skillful, less inventive, and less communicative than the best craftsmen and tradesmen….”Ada permasalahan lain yang pada waktu itu belum sempat muncul. Penggalakan sertifikasi di Indonesia, disamping membuat diskriminasi, disinyalir juga akan memunculkan praktek jual beli gelar yang ilegal, program kuliah jarak jauh yang mempersingkat waktu untuk mendapatkan gelar, serta program kuliah yang berangkat dari logika semakin banyak uang semakin singkat waktu kuliah yang bisa ditempuh. Sungguh sangat ironis melihat kenyataan seperti itu. Pendidikan telah benar-benar direduksi dari makna mulia yang sebenarnya. Maka jangan salahkan kalau kemudian lulusan yang dihasilkanpun tidak mempunyai ruh pedagogis yang seharusnya dimiliki. Pendidikan kemudian kehilangan elanvitalnya.
Dunia pendidikan Indonesia bak lingkaran setan. Sementara pemerintah meminta semua guru harus bersertifikasi dengan terlebih dahulu harus mengenyam pendidikan tinggi, masyarakatpun mengeluh dengan semakin mahalnya biaya pendidikan, terutama pendidikan tinggi. Di sisi lain, lembaga-lembaga pendidikan tinggi “pemasok” guru bersertifikat (lembaga pendidikan tinggi yang mempunyai jurusan keguruan), seringkali juga dikritik karena ketidakmampuannya menyiapkan lulusan yang berkualifikasi dan kompeten di bidangnya. Lembaga pendidikan tinggi ini dituding melahirkan lulusan yang setengah-setengah, bahkan tidak pantas menjadi seorang guru. Lulusan bersertfikatpun ternyata juga belum tentu memiliki kompetensi. Dan hal inilah yang perlu untuk segera dibenahi. Lalu sebenarnya quo vadis pendidikan Indonesia?.
Pemikiran yang akan disoroti dalam tulisan ini, adalah pemikiran pendidikan Ivan Illich dalam buku kontroversialnya yang berjudul “Deschooling Society”. Tentu saja penulis tidak akan terlalu jauh membahas setiap detil gagasan Illich, disebabkan luasnya gagasan-gagasan yang telah ia tuangkan dalam buku tersebut. Buku yang ditulis Illich dalam rangka mengkritisi praktek kemapanan pendidikan yang selama beberapa tahun diselenggarakan oleh sekolah ini, dianggap sangat berbahaya oleh beberapa pihak. Ia dianggap telah menyadarkan masyarakat akan urgensi peninjauan ulang beberapa konsep yang selama ini dianggap mapan oleh sebagian besar masyarakat. Ivan Illich memang berbeda dengan beberapa pemikir pendidikan lainnya seperti Paulo Freire. Ivan dianggap bukan sebagai pemikir yang memiliki massa (baca: pengikut) seperti layaknya Freire. Pemikiran-pemikiran Freire diikuti oleh banyak orang dikarenakan mempunyai target yang jelas, yaitu kaum tertindas (proletar dalam bahasa Marx) yang termarjinalkan oleh praktek pendidikan yang memang tidak adil lagi sangat menindas. Namun pemikiran Illich tetap penting dan, tentu saja, tetap menarik untuk dikaji.
Melucuti kemapanan sekolah adalah tujuan awal dan gagasan pokok yang kemudian Illich tuangkan dalam tulisan-tulisannya. Sekolah, dalam pandangan Illich, adalah lembaga pendidikan yang membagi masyarakat ke dalam kelas-kelas sosial yang sangat tidak egaliter lagi diskriminatif. Sekolah dianggap sebagai lembaga pendidikan dalam era industri yang telah menjadi sedemikian mekanistik namun memperkurus kemanusiaan (dehumanisasi – meminjam istilah Freire). Penyelenggaraan pendidikan oleh sekolah merupakan praksis yang tidak sebangun dengan pendidikan itu sendiri. Murid-murid sekolah kemudian mempunyai logika baru; belajar dianggap sebagai hasil proses pembelajaran yang diadakan oleh sekolah, semakin banyak pengajaran maka semakin banyak hasilnya, menambah materi maka akan semakin mempermudah keberhasilan. Illich menggedor kesadaran masyarakat untuk segera melakukan revolusi budaya, yakni dengan menguji mitos-mitos yang ada dalam lembaga sosial secara radikal yang selama ini telah mapan dalam pandangan masyarakat.
Mayoritas penduduk dalam negara-negara seperti Brasil, Meksiko, Argentina, dan negara-negara Amerika Latin lainnya, dalam pandangan Illich, berada dalam keterkungkungan sekolah. Penduduk ini disekolahkan karena merasa rendah diri dengan terhadap mereka yang. mendapat pendidikan sekolah yang lebih baik. Anehnya, menurut Illich, keyakinan bahwa pendidikan melalui sekolah secara universal mutlak diperlukan justru begitu kuat dianut negara dimana sangat sedikit orang yang telah – dan akan – mengenyam bangku sekolah.
Benar bahwa pengajaran mempunyai andil dalam penciptaan proses belajar dalam waktu dan situasi tertentu. Namun hal ini bukan lalu berarti bahwa hanya pengajaran an sich yang bisa menciptakan proses belajar. Banyak orang yang bisa membaca dan senang membaca beranggapan bahwa mereka bisa dan senang membaca karena sekolah, namun ketika mereka ditanya secara langsung mengenai hal ini, mereka akan melepaskan ilusi ini. Fakta yang ada malah menunjukkan bahwa kebanyakan orang mendapatkan banyak pengetahuan yang berguna justru di luar pengajaran yang telah diprogram sebelumnya.
Salah satu permasalahan yang disoroti Illich adalah mengenai legitimasi yang diberikan sekolah terhadap ketrampilan yang dimiliki oleh seseorang yang telah lulus dari sekolah. Orang yang telah mengenyam pendidikan di sekolah dianggap telah memiliki ketrampilan yang memadai yang ditandai dengan diberikannnya ijazah oleh sekolah. Dalam pandangan Illich, sekolah telah memonopoli ketrampilan/peran sosial yang seharusnya tidak dilakukannya. Sekolah telah menyingkirkan orang-orang yang tidak setuju dengan pandangannya. Sekolah hanya melayani kepentingan segelintir masyarakat yang konsumtif-konsumeristik.dengan mencetak serta memasok tukang-tukang yang bisa diberikan instruksi untuk berbuat sesuai dengan keinginan sekolah. Masyarakat telah “dipaksa” untuk selalu tunduk pada diskriminasi yang didasarkan atas sertifikat atau ijazah mengenai ketrampilan yang dimiliki seseorang. Maka kemudian dengan secara tegas, Illich menyatakan “ School, invariably, shapes the consumer who values institutional commodities above the nonprofessional ministration of a neighbor”. Fenomena inilah yang kemudian menjadi dasar pijakan bagi Illich untuk menyatakan bahwa sekolah telah melakukan praktek-prektek pendidikan yang diskriminatif.
Satu hal yang bisa jadi tidak disadari Illich adalah pernyataannya mengenai tindakan diskriminatif sekolah terhadap anak usia sekolah. Dalam pandangan penulis, pembagian anak usia sekolah ke dalam kelas yang berbeda-beda memang dibutuhkan. Karena hal ini sesuai dengan kondisi psikologis anak yang memang berbeda-beda dan, tentu saja, membutuhkan treatment yang berbeda-beda pula. Sehingga bisa dikatakan bahwa konklusi Illich dalam perpsektif psikologi tidak bisa dibenarkan. Dengan demikian, tesis Illich memang bisa dibenarkan sebagian, dan tidak bisa dibenarkan dalam beberapa hal. Namun setidaknya, lagi-lagi, Illich memang telah menyadarkan kita mengenai hal-hal yang tidak kita duga sebelumnya mengenai sekolah.
Kasus Indonesia yang mungkin bisa dianggap relevan dengan kritikan Illich adalah permasalahan yang saat ini masih digodok oleh decision maker yang berkenaan dengan sertifikasi guru. Dunia pendidikan Indonesia merupakan dunia problematis lagi kompleks. Sebagaimana pernah dilaporkan dalam salah satu TV swasta bahwa guru yang telah benar-benar memenuhi sertifikasi yang ditetapkan pemerintah hanyalah sekitar 31% (data per Desember 2006). Dan membutuhkan waktu yang lama untuk bisa men”sertifikasi’kan seluruh guru di negeri ini.
Memang realita yang ada di Indonesia berbeda dengan realita yang dihadapi Illich pada waktu itu. Tesis Illich telah sampai pada kesimpulan bahwa sekolah sebagai lembaga pendidikan telah menyebabkan langkanya ketrampilan. Sebagaimana dinyatakan oleh Illich “….Skill teachers are made scarce by the belief in the value of licenses. Certification constitutes a form of market manipulation and is plausible only to a schooled mind. Most teachers of arts and trades are less skillful, less inventive, and less communicative than the best craftsmen and tradesmen….”Ada permasalahan lain yang pada waktu itu belum sempat muncul. Penggalakan sertifikasi di Indonesia, disamping membuat diskriminasi, disinyalir juga akan memunculkan praktek jual beli gelar yang ilegal, program kuliah jarak jauh yang mempersingkat waktu untuk mendapatkan gelar, serta program kuliah yang berangkat dari logika semakin banyak uang semakin singkat waktu kuliah yang bisa ditempuh. Sungguh sangat ironis melihat kenyataan seperti itu. Pendidikan telah benar-benar direduksi dari makna mulia yang sebenarnya. Maka jangan salahkan kalau kemudian lulusan yang dihasilkanpun tidak mempunyai ruh pedagogis yang seharusnya dimiliki. Pendidikan kemudian kehilangan elanvitalnya.
Dunia pendidikan Indonesia bak lingkaran setan. Sementara pemerintah meminta semua guru harus bersertifikasi dengan terlebih dahulu harus mengenyam pendidikan tinggi, masyarakatpun mengeluh dengan semakin mahalnya biaya pendidikan, terutama pendidikan tinggi. Di sisi lain, lembaga-lembaga pendidikan tinggi “pemasok” guru bersertifikat (lembaga pendidikan tinggi yang mempunyai jurusan keguruan), seringkali juga dikritik karena ketidakmampuannya menyiapkan lulusan yang berkualifikasi dan kompeten di bidangnya. Lembaga pendidikan tinggi ini dituding melahirkan lulusan yang setengah-setengah, bahkan tidak pantas menjadi seorang guru. Lulusan bersertfikatpun ternyata juga belum tentu memiliki kompetensi. Dan hal inilah yang perlu untuk segera dibenahi. Lalu sebenarnya quo vadis pendidikan Indonesia?.
Selasa, 07 Mei 2013
Islam itu mengajarkan perlawanan
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang dikenal sebagai bangsa yang umat Islamnya paling besar di seluruh dunia. Ini juga sering terdengar di kebanyakan khotbah-khotbah yang entah itu kita dapati secara langsung ataupun menyaksikannya melalui layar kaca. Walaupun pada akhirnya kehidupan berbangsa, bernegara, serta bermasyarakat di negara ini sama sekali tidak terlalu mencerminkan predikat di atas.
Predikat sebagai penganut agama Islam itu tak sebanding dengan reputasi yang tertorehkan dalam perjalanan negara ini. Korupsi justru membabi buta di negara ini. Bahkan korupsi pun juga sudah merasuki di departemen agama negara ini. Instansi yang seharusnya diisi oleh "orang-orang suci" sebagai panutan bagi masyarakat luas. Belum lagi pendidikan yang bertemakan Islam ternyata juga tega memeras biaya pendidikan yang melangit kepada orang tua peserta didiknya. Biaya yang mencekik ternyata berlaku juga di rumah sakit-rumah sakit yang berlabelkan Islam. Ditambah lagi beberapa organisasi-organisasi Islam yang identik dengan sikap heroik salah tempatnya yang sangat jauh dari konsep Islam. Lantas Islamnya ada dimana?
Entahlah, mungkin Islam di bangsa ini hanya identik dengan sisi ritualitasnya saja. Islam yang cuman ada shalat, tadarrus, zikir, serta haji (itupun terkadang hanya untuk mencapai status sosial yang tinggi di masayarakat),dan lain sebagainya yang bersifat ritualis. Islam seakan-akan terpenjarakan oleh tembok-tembok masjid yang megah. Tembok-tembok megah yang di dalamnya kita asyik bermesraan dengan Tuhan seakan tak perduli akan realitas-realitas sosial yang terjadi di balik tembok-tembok megah itu. seakan-akan Islam telah kehilangan esensinya dalam beragama. Masyarakat kita gagal "menghadirkan" Tuhan di dalam kehidupannya sehari-hari. ya, ini sama seperti yang Nietzche katakan sebagai kematian Tuhan. Manusia dengan arogannya membunuh makna serta citra Tuhan itu sendiri. ataupun yang feurbache katakan bahwa manusia telah terasing dari nilai-nilai luhurnya yang tercermin dengan kehidupan bermasyarakatnya yang jauh dari konsep agama.
Setahuku Islam bukan seperti itu, Islam itu mengajarkan untuk membina hubungan baik secara horizontal maupun secara vertikal. Berbuat baik kepada Tuhan serta berbuat baik sesama makhluk. Islam mengajarkan kasih sayang, kemanusiaan, serta toleransi kepada sesama manusia. Mengajarkan agar. sesama manusia untuk saling tolong menolong serta saling menghargai tanpa. harus memilih-memilih. Namun entah Islam yang sekarang, mungkin saja konsep tersebut sudah usang dan tergantikan seiring berlalunya zaman.
Hey, tunggu dulu. Islam sekarang masih mempertahankan nilai-nilai sosialnya. Islam masih berada di garis terdepan dalam memerangi kemaksiatan yang terjadi di lingkungan masyarakat. terbukti dengan berbondong-bondongnya para pejuang-pejuang Islam untuk ikut serta dalam memberantas penyakit-penyakit masyarakat. Jika bulan puasa tiba, maka dengan garangnya mereka menghancurkan warung-warung yang menjual minuman-minuman keras, rumah-rumah bordil sarang para wanita malam menjajakan dirinya, ataupun klub-klub malam yang masih buka pada bulan puasa. mereka merusak, membakar serta memporak-porandakannya walaupun tanpa ada yang tahu atas legitimasi apa mereka berbuat seperti itu.
Jika ditilik lebih jauh, malah melihat kecenderungan para pejuang tersebut justru membuat adanya ironi di dalamnya. dimana melihat perjuangan mereka yang ternyata sangat bersifat momentuman belaka. ketika bulan puasa telah berlalu, praktis tidak ada lagi tindakan-tindakan perlawanan yang mereka lakukan. Lantas dimana mereka dalam memberantas korupsi? dimana mereka pada saat penggusuran pemukiman kaum miskin? apakah itu tidak termasuk tindakan berdosa di dalam ajaran Islam? sungguh benar-benar sangat memprihatinkan. Ini ditambah lagi terkadang tindakan mereka yang terkesan masih memilih-milih korbannya. entah karena persoalan politis atau sebagainya. Dilengkapi dengan citra buruk yang melekat kepada mereka yang katanya lebih layak dijuluki preman dibanding pejuang Islam akibat tindakan-tindakan brutal yang kerap terjadi kala mereka menjalankan aksinya. malah harusnya Islam tidak seperti ini kawan!!!
Jika para ulama ditanya bagaimana pendapat mereka tentang penggusuran kaum miskin, mahalnya biaya kesehatan dan pendidikan, penyakit busung lapar dimana-mana, serta korupsi yang membudaya. maka kebanyakan dari mereka akan menjawab dan menghimbau agar tetap sabar dan menganggap semua itu cobaan dari Tuhan. Kita cukup berdoa saja semoga cobaan ini cepat berlalu. Namun apakah dengan bermodalkan dengan kesabaran serta doa bangsa Ini akan menyelesaikan problem keb angsaaannya? tentu saja jawabannya adalah tidak. Kita tidak boleh hanya duduk sambil mengadahkan tangan berharap Tuhan sudi turun dari kayangan dan melafadzkan kalimat kun fayaakun yang lantas membuat bangsa ini sejahtera. bukankah sudah jelas tertuang dalam Al Quran bahwa "tak akan berubah nasib suatu kaum, kecuali mereka sendiri yang mengubahnya." kita butuh ikhtiar sebagai penyelesaiannya. dibutuhkan usaha yang keras untuk memenuhi syarat-syarat yang Tuhan berikan untuk kita. syarat-syarat untuk memenuhi takdir yang telah Tuhan siapkan untuk bangsa ini. Bukan hanya sekedar teori saja untuk mendapatkan kesejahteraan. bukan hanya dengan menghakimi suatu perbuatan itu dosa atau tidak. melainkan kita harus mempraktekkannya. melakukan amal baik dan mencegah yang mungkar.
Jadi, seharusnya kita sebagai manusia beragama mulai menghadirkan Tuhan dalam kehidupan sosial kita. Bukan hanya dengan sekedar bersabar dan berdoa, melainkan berperan aktif dalam menegakkan nilai-nilai Islam di negara ini. Melakukan perlawanan terhadap penindasan serta ketidakadilan yang terjadi di negara ini. Ya, Islam seharusnya begitu. karena Islam itu adalah agama perlawanan.
Predikat sebagai penganut agama Islam itu tak sebanding dengan reputasi yang tertorehkan dalam perjalanan negara ini. Korupsi justru membabi buta di negara ini. Bahkan korupsi pun juga sudah merasuki di departemen agama negara ini. Instansi yang seharusnya diisi oleh "orang-orang suci" sebagai panutan bagi masyarakat luas. Belum lagi pendidikan yang bertemakan Islam ternyata juga tega memeras biaya pendidikan yang melangit kepada orang tua peserta didiknya. Biaya yang mencekik ternyata berlaku juga di rumah sakit-rumah sakit yang berlabelkan Islam. Ditambah lagi beberapa organisasi-organisasi Islam yang identik dengan sikap heroik salah tempatnya yang sangat jauh dari konsep Islam. Lantas Islamnya ada dimana?
Entahlah, mungkin Islam di bangsa ini hanya identik dengan sisi ritualitasnya saja. Islam yang cuman ada shalat, tadarrus, zikir, serta haji (itupun terkadang hanya untuk mencapai status sosial yang tinggi di masayarakat),dan lain sebagainya yang bersifat ritualis. Islam seakan-akan terpenjarakan oleh tembok-tembok masjid yang megah. Tembok-tembok megah yang di dalamnya kita asyik bermesraan dengan Tuhan seakan tak perduli akan realitas-realitas sosial yang terjadi di balik tembok-tembok megah itu. seakan-akan Islam telah kehilangan esensinya dalam beragama. Masyarakat kita gagal "menghadirkan" Tuhan di dalam kehidupannya sehari-hari. ya, ini sama seperti yang Nietzche katakan sebagai kematian Tuhan. Manusia dengan arogannya membunuh makna serta citra Tuhan itu sendiri. ataupun yang feurbache katakan bahwa manusia telah terasing dari nilai-nilai luhurnya yang tercermin dengan kehidupan bermasyarakatnya yang jauh dari konsep agama.
Setahuku Islam bukan seperti itu, Islam itu mengajarkan untuk membina hubungan baik secara horizontal maupun secara vertikal. Berbuat baik kepada Tuhan serta berbuat baik sesama makhluk. Islam mengajarkan kasih sayang, kemanusiaan, serta toleransi kepada sesama manusia. Mengajarkan agar. sesama manusia untuk saling tolong menolong serta saling menghargai tanpa. harus memilih-memilih. Namun entah Islam yang sekarang, mungkin saja konsep tersebut sudah usang dan tergantikan seiring berlalunya zaman.
Hey, tunggu dulu. Islam sekarang masih mempertahankan nilai-nilai sosialnya. Islam masih berada di garis terdepan dalam memerangi kemaksiatan yang terjadi di lingkungan masyarakat. terbukti dengan berbondong-bondongnya para pejuang-pejuang Islam untuk ikut serta dalam memberantas penyakit-penyakit masyarakat. Jika bulan puasa tiba, maka dengan garangnya mereka menghancurkan warung-warung yang menjual minuman-minuman keras, rumah-rumah bordil sarang para wanita malam menjajakan dirinya, ataupun klub-klub malam yang masih buka pada bulan puasa. mereka merusak, membakar serta memporak-porandakannya walaupun tanpa ada yang tahu atas legitimasi apa mereka berbuat seperti itu.
Jika ditilik lebih jauh, malah melihat kecenderungan para pejuang tersebut justru membuat adanya ironi di dalamnya. dimana melihat perjuangan mereka yang ternyata sangat bersifat momentuman belaka. ketika bulan puasa telah berlalu, praktis tidak ada lagi tindakan-tindakan perlawanan yang mereka lakukan. Lantas dimana mereka dalam memberantas korupsi? dimana mereka pada saat penggusuran pemukiman kaum miskin? apakah itu tidak termasuk tindakan berdosa di dalam ajaran Islam? sungguh benar-benar sangat memprihatinkan. Ini ditambah lagi terkadang tindakan mereka yang terkesan masih memilih-milih korbannya. entah karena persoalan politis atau sebagainya. Dilengkapi dengan citra buruk yang melekat kepada mereka yang katanya lebih layak dijuluki preman dibanding pejuang Islam akibat tindakan-tindakan brutal yang kerap terjadi kala mereka menjalankan aksinya. malah harusnya Islam tidak seperti ini kawan!!!
Jika para ulama ditanya bagaimana pendapat mereka tentang penggusuran kaum miskin, mahalnya biaya kesehatan dan pendidikan, penyakit busung lapar dimana-mana, serta korupsi yang membudaya. maka kebanyakan dari mereka akan menjawab dan menghimbau agar tetap sabar dan menganggap semua itu cobaan dari Tuhan. Kita cukup berdoa saja semoga cobaan ini cepat berlalu. Namun apakah dengan bermodalkan dengan kesabaran serta doa bangsa Ini akan menyelesaikan problem keb angsaaannya? tentu saja jawabannya adalah tidak. Kita tidak boleh hanya duduk sambil mengadahkan tangan berharap Tuhan sudi turun dari kayangan dan melafadzkan kalimat kun fayaakun yang lantas membuat bangsa ini sejahtera. bukankah sudah jelas tertuang dalam Al Quran bahwa "tak akan berubah nasib suatu kaum, kecuali mereka sendiri yang mengubahnya." kita butuh ikhtiar sebagai penyelesaiannya. dibutuhkan usaha yang keras untuk memenuhi syarat-syarat yang Tuhan berikan untuk kita. syarat-syarat untuk memenuhi takdir yang telah Tuhan siapkan untuk bangsa ini. Bukan hanya sekedar teori saja untuk mendapatkan kesejahteraan. bukan hanya dengan menghakimi suatu perbuatan itu dosa atau tidak. melainkan kita harus mempraktekkannya. melakukan amal baik dan mencegah yang mungkar.
Jadi, seharusnya kita sebagai manusia beragama mulai menghadirkan Tuhan dalam kehidupan sosial kita. Bukan hanya dengan sekedar bersabar dan berdoa, melainkan berperan aktif dalam menegakkan nilai-nilai Islam di negara ini. Melakukan perlawanan terhadap penindasan serta ketidakadilan yang terjadi di negara ini. Ya, Islam seharusnya begitu. karena Islam itu adalah agama perlawanan.
Jatuh Cinta (tidak) Biasa Saja/Confession of Faith
Hey kamu yang di sudut sana.
yang sengaja menutup dirinya dalam kelam.
bersembunyi di balik topeng tragisnya.
menahan sakit yang selama ini terpendam.
hey, katamu jatuh cinta itu biasa saja.
hanyalah sebuah perasaan yang dilebih-lebihkan.
sebuah dalih untuk mengecup seorang gadis secara gratis.
ataukah dalih agar selalu punya tempat untuk belajar retorika.
hey, jika memang jatuh cinta sesederhana itu.
kenapa kau merasakan begitu pedih kini.
kenapa kau menangis memendam sakit.
bahkan harus bersusah payah menyembunyikannya.
hanya kau yang tak mampu membedakan cintamu dan hasrat binatangmu.
hey, berbahagialah kau.
akhirnya kau mampu merasakan cinta itu.
hasrat untuk senantiasa menyempurna.
ingin menjadi dekat dengan Dia kekasih abadimu.
kembali padaNya Sang Sebab awal.
hey, ceritakan padaku bagaimana rasanya?
begitu sakit kah?
cintamu yang terhijabi kenistaanmu.
merasa tak pantas mendapat cintaNya.
Terang saja, kau begitu kotor untuk dapatkan cintaNya.
bahkan hanya untuk sekedar dekat denganNya.
hey, menderitalah kau.
merasakan cinta yang tak biasa itu.
tahanlah perihnya.
dan berharaplah.
Dia akan memanggilMu untuk mendekat padaNya.
yang sengaja menutup dirinya dalam kelam.
bersembunyi di balik topeng tragisnya.
menahan sakit yang selama ini terpendam.
hey, katamu jatuh cinta itu biasa saja.
hanyalah sebuah perasaan yang dilebih-lebihkan.
sebuah dalih untuk mengecup seorang gadis secara gratis.
ataukah dalih agar selalu punya tempat untuk belajar retorika.
hey, jika memang jatuh cinta sesederhana itu.
kenapa kau merasakan begitu pedih kini.
kenapa kau menangis memendam sakit.
bahkan harus bersusah payah menyembunyikannya.
hanya kau yang tak mampu membedakan cintamu dan hasrat binatangmu.
hey, berbahagialah kau.
akhirnya kau mampu merasakan cinta itu.
hasrat untuk senantiasa menyempurna.
ingin menjadi dekat dengan Dia kekasih abadimu.
kembali padaNya Sang Sebab awal.
hey, ceritakan padaku bagaimana rasanya?
begitu sakit kah?
cintamu yang terhijabi kenistaanmu.
merasa tak pantas mendapat cintaNya.
Terang saja, kau begitu kotor untuk dapatkan cintaNya.
bahkan hanya untuk sekedar dekat denganNya.
hey, menderitalah kau.
merasakan cinta yang tak biasa itu.
tahanlah perihnya.
dan berharaplah.
Dia akan memanggilMu untuk mendekat padaNya.
FAITH
Dexter Fritz ternyata bukan seorang yang teguh pendiriannya.
Dia berjanji pada dirinya sendiri tapi akhirnya dia mengingkarinya sendiri.
Dulu dia tak pernah menginginkan wanita, dia hanya ingin menghabiskan hidupnya dengan musik.
Tapi seorang Faith Adrienne Warren telah merubahnya,
Membuatnya menjadi seorang yang diperbudak oleh cinta.
Aku seperti terjerat dan aku tak bisa menyelamatkan diriku.
Dia begitu mempesona.
Dia adalah seorang wanita sempurna.
Aku bisa saja melakukan apa saja untuk bisa bersamanya.
Aku mencintainya di setiap hembusan nafasku,
Di setiap detak jantungku,
Dan di setiap detik yang ku lalui.
Aku tak bisa mengendalikannya,
Perasaan itu yang mengendalikanku dan aku tidak bisa berbuat apa-apa.
Aku seperti seorang pecundang yang kalah oleh pesona luar biasa dari seorang wanita.
*diambil dari potongan halaman Faith - T. Andra
Dia berjanji pada dirinya sendiri tapi akhirnya dia mengingkarinya sendiri.
Dulu dia tak pernah menginginkan wanita, dia hanya ingin menghabiskan hidupnya dengan musik.
Tapi seorang Faith Adrienne Warren telah merubahnya,
Membuatnya menjadi seorang yang diperbudak oleh cinta.
Aku seperti terjerat dan aku tak bisa menyelamatkan diriku.
Dia begitu mempesona.
Dia adalah seorang wanita sempurna.
Aku bisa saja melakukan apa saja untuk bisa bersamanya.
Aku mencintainya di setiap hembusan nafasku,
Di setiap detak jantungku,
Dan di setiap detik yang ku lalui.
Aku tak bisa mengendalikannya,
Perasaan itu yang mengendalikanku dan aku tidak bisa berbuat apa-apa.
Aku seperti seorang pecundang yang kalah oleh pesona luar biasa dari seorang wanita.
*diambil dari potongan halaman Faith - T. Andra
Minggu, 28 April 2013
ini cinta hamba untuk tuan
Salam kesalamatan untukmu tuan.
Apakah tuan baik-baik saja hari ini?
Tuan kelihatannya sedang murung.
Mungkin tuan sedang banyak masalah.
Mungkin tuan sedang banyak pikiran.
Tuan, perkenalkan hamba.
Hamba adalah orang yang akan selalu menjaga tuan.
Orang yang akan selalu memastikan tuan dalam keadaan baik-baik saja.
Membuat tuan senantiasa bahagia.
Hamba telah mengabdikan diri hamba untuk tuan.
Senyum tawa tuan adalah kebahagiaan bagi hamba.
Diam, tangisan dan sedih adalah siksa yang perih buat hamba
Maka jangan tuan khawatir jikalau hamba repot atau susah diri demi menyenangkan tuan.
Itu sudah menjadi tugas hamba.
Katakan pada hamba.
Apa yang harus hamba lakukan untuk melihat senyum tuan kembali.
Mendengar tuan kembali tertawa.
Hamba gelisah melihat tuan yang diam seperti itu.
Hamba benar-benar tak tahu harus berbuat apa.
Tolong sampaikan kepada hamba cara membahagiakan tuan.
Hamba tak punya kemampuan cenayang untuk membaca pikiran tuan.
Hamba hanya bisa menunggu.
Menunggu tuan untuk terbuka.
Tuan jangan takut.
Hamba memang seperti ini.
Hamba sudah menyerahkan hidup hamba untuk kebahagiaan tuan.
Tak perlu merasa cemas ataupun merasa sungkan.
Tak perlu pula bertanya kenapa hamba mau.
Hamba juga tak mengerti tuan.
Yang hamba tahu sebuah penyerahan total kepada tuan.
Yang hamba tahu ini mungkinlah sebuah cinta untuk tuan.
Apakah tuan baik-baik saja hari ini?
Tuan kelihatannya sedang murung.
Mungkin tuan sedang banyak masalah.
Mungkin tuan sedang banyak pikiran.
Tuan, perkenalkan hamba.
Hamba adalah orang yang akan selalu menjaga tuan.
Orang yang akan selalu memastikan tuan dalam keadaan baik-baik saja.
Membuat tuan senantiasa bahagia.
Hamba telah mengabdikan diri hamba untuk tuan.
Senyum tawa tuan adalah kebahagiaan bagi hamba.
Diam, tangisan dan sedih adalah siksa yang perih buat hamba
Maka jangan tuan khawatir jikalau hamba repot atau susah diri demi menyenangkan tuan.
Itu sudah menjadi tugas hamba.
Katakan pada hamba.
Apa yang harus hamba lakukan untuk melihat senyum tuan kembali.
Mendengar tuan kembali tertawa.
Hamba gelisah melihat tuan yang diam seperti itu.
Hamba benar-benar tak tahu harus berbuat apa.
Tolong sampaikan kepada hamba cara membahagiakan tuan.
Hamba tak punya kemampuan cenayang untuk membaca pikiran tuan.
Hamba hanya bisa menunggu.
Menunggu tuan untuk terbuka.
Tuan jangan takut.
Hamba memang seperti ini.
Hamba sudah menyerahkan hidup hamba untuk kebahagiaan tuan.
Tak perlu merasa cemas ataupun merasa sungkan.
Tak perlu pula bertanya kenapa hamba mau.
Hamba juga tak mengerti tuan.
Yang hamba tahu sebuah penyerahan total kepada tuan.
Yang hamba tahu ini mungkinlah sebuah cinta untuk tuan.
jikalau merindumu pun salah
Senja datang bersama rindu.
Rindu yang juga membawa siksaan dengannya.
Apakah kamu suka pada saat merindu?
Aku tak suka.
Aku bukanlah seorang masokis yang begitu menyukai siksaan.
Aku hanyalah seorang manusia biasa yang tahan akan siksa yang mendera.
Apalagi jika siksa karena merindu kamu.
Dan celakanya aku sedang merindukanmu saat ini.
Aku merindukanmu seperti seorang pesakitan membutuhkan ganja.
Seperti seorang yang sakit membutuhkan obat.
Seperti seorang perindu yang ingin bertemu.
Tapi itu sulit saat ini sepertinya.
Kamu masih tak ingin bertemu.
Aku ingin berbagi denganmu.
Bercerita apapun juga bersamamu.
akhirnya yang bisa kulakukan hanyalah meraih ponselku.
Berniat hanya sekedar mendengar suaramu.
Tapi itu pun kamu tak mau.
Hanya kiriman pesan singkat yang menurutku bernada sinis darimu.
Sebenci itukah kamu?
Apakah salah karena merindumu?
Ah, mungkin saja kamu butuh waktu tanpa aku.
Mungkin saja itu memberimu sedikit ruang untuk berpikir.
Masihkah kamu ingin bersamaku.
Atau mungkin saja tanpa aku kamu lebih bahagia.
Aku tak tahu.
Yang kutahu hanyalah saat ini aku hanya sedang sangat merindukanmu.
Apakah kamu merindukanku juga?
Apakah kamu akan mencariku ketika ku menghilang?
Apakah kamu akan mengejarku ketika ku berlalu?
Tak apalah.
Jikalau memang merindumu pun salah.
Aku hanya akan menunggumu.
Menunggumu hingga kamu merindu pula.
Itupun jika terjadi.
Karena jika tidak.
Maka celakalah aku.
Rindu yang juga membawa siksaan dengannya.
Apakah kamu suka pada saat merindu?
Aku tak suka.
Aku bukanlah seorang masokis yang begitu menyukai siksaan.
Aku hanyalah seorang manusia biasa yang tahan akan siksa yang mendera.
Apalagi jika siksa karena merindu kamu.
Dan celakanya aku sedang merindukanmu saat ini.
Aku merindukanmu seperti seorang pesakitan membutuhkan ganja.
Seperti seorang yang sakit membutuhkan obat.
Seperti seorang perindu yang ingin bertemu.
Tapi itu sulit saat ini sepertinya.
Kamu masih tak ingin bertemu.
Aku ingin berbagi denganmu.
Bercerita apapun juga bersamamu.
akhirnya yang bisa kulakukan hanyalah meraih ponselku.
Berniat hanya sekedar mendengar suaramu.
Tapi itu pun kamu tak mau.
Hanya kiriman pesan singkat yang menurutku bernada sinis darimu.
Sebenci itukah kamu?
Apakah salah karena merindumu?
Ah, mungkin saja kamu butuh waktu tanpa aku.
Mungkin saja itu memberimu sedikit ruang untuk berpikir.
Masihkah kamu ingin bersamaku.
Atau mungkin saja tanpa aku kamu lebih bahagia.
Aku tak tahu.
Yang kutahu hanyalah saat ini aku hanya sedang sangat merindukanmu.
Apakah kamu merindukanku juga?
Apakah kamu akan mencariku ketika ku menghilang?
Apakah kamu akan mengejarku ketika ku berlalu?
Tak apalah.
Jikalau memang merindumu pun salah.
Aku hanya akan menunggumu.
Menunggumu hingga kamu merindu pula.
Itupun jika terjadi.
Karena jika tidak.
Maka celakalah aku.
Sabtu, 13 April 2013
Tanda titik dua bintang dan tanda kurung kurawal dalam tanda kurung
Hari ini seperti biasa.
Ada begitu banyak pesan singkat darimu.
Entah berapa juga pesan singkat yang kukirim untukmu.
Isinya seperti biasa.
Kalimat aku mencintaimu.
Janjiku untuk terus bersamamu.
Dan deskripsi betapa berharganya kamu untuk aku.
Dari begitu banyak pesan singkat kita.
Tahukah kamu apa yang begitu menarik.
Tanda titik dua bintang serta tanda kurung kurawal di dalam tanda kurung.
Tanda yang selalu kita kirimkan setiap hari.
Tanda yang lucu menurutku.
Setiap tanda itu muncul.
Seolah-olah kamu berada di sampingku.
Memelukmu dan menciummu dengan begitu mesra.
Membelaimu lembut hingga membuatmu terbuai.
Menjelajahi tiap inci tubuhmu yang begitu indah.
Mengecup wajah manismu.
Ya, saya mencumbumu saat itu.
Saya mencumbumu melalui teks.
Bermesraan denganmu lewat rangkaian kata.
Itu terdengar lucu kan???
Iya, kita hanya bisa saling memadu kasih lewat kata.
Padahal tiap harinya kita bertemu.
Hanya bisa memelukmu dan mengecupmu dalam khayal.
Tapi sabarlah kamu.
Akan tiba masanya kita akan melakukannya nanti.
Bukan lagi lewat kata-kata.
Bukan lagi diwakilkan lewat tanda titik dua bintang dan tanda kurung kurawal dalam tanda kurung.
Ketika tak ada lagi hijab antara kita.
Ketika negara sudah mengakui hubungan kita.
Ketika aku menikahimu.
Ada begitu banyak pesan singkat darimu.
Entah berapa juga pesan singkat yang kukirim untukmu.
Isinya seperti biasa.
Kalimat aku mencintaimu.
Janjiku untuk terus bersamamu.
Dan deskripsi betapa berharganya kamu untuk aku.
Dari begitu banyak pesan singkat kita.
Tahukah kamu apa yang begitu menarik.
Tanda titik dua bintang serta tanda kurung kurawal di dalam tanda kurung.
Tanda yang selalu kita kirimkan setiap hari.
Tanda yang lucu menurutku.
Setiap tanda itu muncul.
Seolah-olah kamu berada di sampingku.
Memelukmu dan menciummu dengan begitu mesra.
Membelaimu lembut hingga membuatmu terbuai.
Menjelajahi tiap inci tubuhmu yang begitu indah.
Mengecup wajah manismu.
Ya, saya mencumbumu saat itu.
Saya mencumbumu melalui teks.
Bermesraan denganmu lewat rangkaian kata.
Itu terdengar lucu kan???
Iya, kita hanya bisa saling memadu kasih lewat kata.
Padahal tiap harinya kita bertemu.
Hanya bisa memelukmu dan mengecupmu dalam khayal.
Tapi sabarlah kamu.
Akan tiba masanya kita akan melakukannya nanti.
Bukan lagi lewat kata-kata.
Bukan lagi diwakilkan lewat tanda titik dua bintang dan tanda kurung kurawal dalam tanda kurung.
Ketika tak ada lagi hijab antara kita.
Ketika negara sudah mengakui hubungan kita.
Ketika aku menikahimu.
saya tak tahu ini berjudul apa
Hai 19 februari!
Bagaimana kabarmu?
Masih mengingat dia?
Masih merindukan dia?
Semoga saja tidak.
Jikalau pun iya, maka celakalah aku.
Tahukah kamu.
Saya benci melihatmu dengan dia.
Mengetahui ceritamu tentang dia.
Melihat fotomu bersamanya.
Melihat barang-barang yang berisi kenanganmu bersama dia.
Membaca tulisan yang kamu buat hanya untuk dia.
Membayangkan kedekatanmu waktu masih dengan dia.
Tahukah kamu.
Itu bisa membuatku gila.
Membuat moodku berantakan.
Sering marah tak jelas.
Merasa bodoh sendiri.
Cemburu lebih tepatnya!!!
Tahukah kamu.
Aku takut kehilangan kamu.
Takut kamu kembali padanya.
Takut kamu masih menyimpan rasa untuk dia.
Takut aku tak lebih baik darinya.
Takut kamu lebih bahagia bersamanya dibanding denganku.
Takut kamu lebih memilih dia daripada saya.
19 februari,
Aku tahu mungkin dia lebih tampan.
Dia lebih lucu.
Dia lebih sabar menghadapimu.
Dia lebih pintar.
Dia lebih punya masa depan ketimbangku.
Tapi satu yang tahu kelebihanku.
Aku lebih total mencintaimu!!!
19 februari,
Bagaimana pun lebihnya dia daripadaku.
Dia melepasmu.
Dia tak memelukmu erat.
Dia hanya masa lalumu.
Sedangkan aku,
Aku masa kini dan masa depanmu.
Aku yang tak akan pernah mau melepasmu.
Aku yang akan terus memelukmu erat hingga membuatmu sesak.
Aku yang tak akan pernah membiarkanmu pergi.
Aku yang akan selalu mencintaimu.
Semua itu kulakukan.
Karena aku tahu.
Kamu itu cinta dan hidupku.
Bagaimana kabarmu?
Masih mengingat dia?
Masih merindukan dia?
Semoga saja tidak.
Jikalau pun iya, maka celakalah aku.
Tahukah kamu.
Saya benci melihatmu dengan dia.
Mengetahui ceritamu tentang dia.
Melihat fotomu bersamanya.
Melihat barang-barang yang berisi kenanganmu bersama dia.
Membaca tulisan yang kamu buat hanya untuk dia.
Membayangkan kedekatanmu waktu masih dengan dia.
Tahukah kamu.
Itu bisa membuatku gila.
Membuat moodku berantakan.
Sering marah tak jelas.
Merasa bodoh sendiri.
Cemburu lebih tepatnya!!!
Tahukah kamu.
Aku takut kehilangan kamu.
Takut kamu kembali padanya.
Takut kamu masih menyimpan rasa untuk dia.
Takut aku tak lebih baik darinya.
Takut kamu lebih bahagia bersamanya dibanding denganku.
Takut kamu lebih memilih dia daripada saya.
19 februari,
Aku tahu mungkin dia lebih tampan.
Dia lebih lucu.
Dia lebih sabar menghadapimu.
Dia lebih pintar.
Dia lebih punya masa depan ketimbangku.
Tapi satu yang tahu kelebihanku.
Aku lebih total mencintaimu!!!
19 februari,
Bagaimana pun lebihnya dia daripadaku.
Dia melepasmu.
Dia tak memelukmu erat.
Dia hanya masa lalumu.
Sedangkan aku,
Aku masa kini dan masa depanmu.
Aku yang tak akan pernah mau melepasmu.
Aku yang akan terus memelukmu erat hingga membuatmu sesak.
Aku yang tak akan pernah membiarkanmu pergi.
Aku yang akan selalu mencintaimu.
Semua itu kulakukan.
Karena aku tahu.
Kamu itu cinta dan hidupku.
Kamis, 11 April 2013
jumat, 12 april 2013 di pagi hari
Ada banyak cerita dan senyuman di pagi ini. Menuliskannya mungkin menjadi pilihan kesekian. Takutnya saya malah terlihat seperti seorang gadis labil menjijikkan yang senang menulis di blognya seperti menulis di diary yang isinya tentang apa yang dia bagaimana hidupnya berjalan yang sebenarnya orang sama sekali tak tertarik untuk membacanya. Tapi untuk kali ini tak apalah. Toh kata-kata yang saya pakai tidak akan semanis seperti gadis abg labil itu. Saya lebih suka bercerita dengan sedikit kasar. Dan saya pun tak berharap kalian (yang entah dengan alasan apa membaca ini) tertarik.
Pagi ini tak seperti biasanya. Masih ada sisa mood yang berantakan bekas semalam. Bahkan ketika melihat isi kotak masuk di ponsel. Malah semakin membuat malas. Tengoklah jam, pukul berapa sekarang? 04.43!!! Gila, entah jin baik apa yang merasuki saya sampai-sampai bangun sepagi ini. Padahal jam segini biasanya saya baru mulai untuk mencoba tertidur. Ini masih terlalu pagi. Masih sempat untuk nyampah berkicau di twitter. Sebelum akhirnya memutuskan melakukan sesuatu yang langka. Mandi pagi!!! Bukankah ini hal gila? Yang biasanya mandinya hanya sekali sehari pas tengah hari. Merangkum mandi pagi dan mandi sore. Lebih efektif dan lebih efisien. Menghemat air juga tentunya. Menghargai saudara-saudara kita disana yang kekurangan air. Ah sudahlah, itu hanya apologi dari kemalasanku saja. Bahkan setelah mandi ini masih saja terlalu pagi. Tahu yang selanjutnya? Melaksanakan shalat subuh. Bangsat, ini seperti bukan saya. Ibadah yang bahkan jumlah saya melakukannya dalam setahun hanya unggul tipis dari jumlah saya melaksanakan shalat hari raya dalam setahun. Tapi syukurlah, dengan shalat subuh kali ini saya bisa berbagi kesah dengan Tuhanku. Setidaknya saya bisa menegurnya. Berhentilah sedikit bermain-main dengan hidupku. Bisa kan Tuhan???
Apalagi yang menarik di pagi ini??? Jalan raya di pagi hari. Saya ibarat seorang raja yang disambut oleh rakyatnya. Disapa mentari pagi yang hangat, embun pagi yang masih menetes di sela-sela dedaunan di pohon, aroma hujan di jalanan bekas semalam. Teduh mendamaikan, itu kesan pertama di kepalaku. Jalan raya di pagi hari ramah. Lengang tak ada padatan berarti. Tak ada suara mesin motor yang memekakkan telinga. Tak ada ketergesa-gesaan yang ditandai dengan suara klakson yang tak bersahabat. Tak ada pengguna jalan menyebalkan tak tahu diri yang seolah-olah merasa jalan raya adalah miliknya seorUHuatnya rutinitas kehidupan. Wajah yang dalam beberapa jam ke depan akan berubah suram.
Pagi ini manis. Layaknya senyuman seorang gadis remaja yang baru saja jatuh cinta. Penuh cerita baru. Ah, bukan cerita baru. Hanya cerita lama yang sempat terlupa dan baru teringat kembali. Cerita tentang sensasi bangun pagi, sejuknya air di timbaan air pertama saat mandi pagi, teduhnya jiwa yang berdialog dengan Tuhan di ibadah subuh, tentang jalan raya yang menyapa begitu ramah di pagi hari, dan cerita kesibukan manusia yang berlalu lalang menyambut paginya. Cerita-cerita yang saya sendiri sudah lupa kapan melewatinya. Cerita-cerita yang entah kapan lagi saya akan mendapatkannya. Yang jelas pagi ini indah. Pagi ini sudah kukalahkan.
Pagi ini tak seperti biasanya. Masih ada sisa mood yang berantakan bekas semalam. Bahkan ketika melihat isi kotak masuk di ponsel. Malah semakin membuat malas. Tengoklah jam, pukul berapa sekarang? 04.43!!! Gila, entah jin baik apa yang merasuki saya sampai-sampai bangun sepagi ini. Padahal jam segini biasanya saya baru mulai untuk mencoba tertidur. Ini masih terlalu pagi. Masih sempat untuk nyampah berkicau di twitter. Sebelum akhirnya memutuskan melakukan sesuatu yang langka. Mandi pagi!!! Bukankah ini hal gila? Yang biasanya mandinya hanya sekali sehari pas tengah hari. Merangkum mandi pagi dan mandi sore. Lebih efektif dan lebih efisien. Menghemat air juga tentunya. Menghargai saudara-saudara kita disana yang kekurangan air. Ah sudahlah, itu hanya apologi dari kemalasanku saja. Bahkan setelah mandi ini masih saja terlalu pagi. Tahu yang selanjutnya? Melaksanakan shalat subuh. Bangsat, ini seperti bukan saya. Ibadah yang bahkan jumlah saya melakukannya dalam setahun hanya unggul tipis dari jumlah saya melaksanakan shalat hari raya dalam setahun. Tapi syukurlah, dengan shalat subuh kali ini saya bisa berbagi kesah dengan Tuhanku. Setidaknya saya bisa menegurnya. Berhentilah sedikit bermain-main dengan hidupku. Bisa kan Tuhan???
Apalagi yang menarik di pagi ini??? Jalan raya di pagi hari. Saya ibarat seorang raja yang disambut oleh rakyatnya. Disapa mentari pagi yang hangat, embun pagi yang masih menetes di sela-sela dedaunan di pohon, aroma hujan di jalanan bekas semalam. Teduh mendamaikan, itu kesan pertama di kepalaku. Jalan raya di pagi hari ramah. Lengang tak ada padatan berarti. Tak ada suara mesin motor yang memekakkan telinga. Tak ada ketergesa-gesaan yang ditandai dengan suara klakson yang tak bersahabat. Tak ada pengguna jalan menyebalkan tak tahu diri yang seolah-olah merasa jalan raya adalah miliknya seorUHuatnya rutinitas kehidupan. Wajah yang dalam beberapa jam ke depan akan berubah suram.
Pagi ini manis. Layaknya senyuman seorang gadis remaja yang baru saja jatuh cinta. Penuh cerita baru. Ah, bukan cerita baru. Hanya cerita lama yang sempat terlupa dan baru teringat kembali. Cerita tentang sensasi bangun pagi, sejuknya air di timbaan air pertama saat mandi pagi, teduhnya jiwa yang berdialog dengan Tuhan di ibadah subuh, tentang jalan raya yang menyapa begitu ramah di pagi hari, dan cerita kesibukan manusia yang berlalu lalang menyambut paginya. Cerita-cerita yang saya sendiri sudah lupa kapan melewatinya. Cerita-cerita yang entah kapan lagi saya akan mendapatkannya. Yang jelas pagi ini indah. Pagi ini sudah kukalahkan.
Rabu, 10 April 2013
Adi Bing Slamet harusnya membenci Tuhan
Anda punya sebuah kotak bernama televisi di rumah?
Pernah menonton infotainment?
Tahu tentang berita adi bing slamet kontra eyang subur?
Pertikaiannya.
Saling menuduhnya.
Pembelaan dirinya.
Dramanya!!!
Jawabannya pasti pernah.
Bahkan orang yang benci menikmati acara gosip seperti saya pun pernah.
Bukan hanya pernah, saya bahkan tahu secara rinci dramanya.
Bagaimana tidak.
Tayangan tv kita seakan-akan memaksa kita menikmatinya.
Tiap harinya hanya soal itu terus-terusan ditayangkan.
Kita dicekoki tiap episode drama tersebut.
Tanpa ada pilihan menu lainnya.
Entahlah, mungkin jurnalis Indonesia sedang miskin berita sampai-sampai harus sesibuk itu menyebarkan berita tak berkualitas seperti itu.
Simak drama ini.
Pertikaan antara mantan murid dan sang guru spiritiual.
Cerita yang diperankan oleh adi bing slamet sebagai sang murid dan eyang subur sebagai sang guru spiritual.
Yang entah mengapa tiba-tiba si murid murtad dari gurunya.
Bahkan mengatakan sang guru sesat, cabul, suka memeras, dan hal buruk lainnya.
Dan sang guru menangkisnya dengan melaksanakan acara maulid sambil membagi-bagikan uang pada anak-anak yatim..
Seakan-akan menjelaskan bahwa dirinya seorang islam dan dermawan.
Membiarkan para pionnya berteriak membelanya.
Kebiasaan seorang raja.
Ada satu hal yang menggelitikku dari drama ini.
Latar belakang berkoar-koarnya sang murid.
Atas nama agama dan umat.
Menabuh genderang perang pada sang guru spiritual.
Eyang subur yang dianggap menyebarkan kesesatan pada umat.
Adi bing slamet mengajak umat islam lainnya memerangi eyang subur juga.
Alasannya simpel.
Sebagai umat islam kita tidak boleh membiarkan jika ada yang ingin menyesatkan umat islam.
Jika tidak, itu sama saja sesat katanya.
Kalau seperti itu katanya.
Harusnya umat islam juga membenci Tuhan.
Bukankah Tuhan yang membiarkan kesesatan untuk pertama kalinya?
Bukankah Tuhan yang mengijinkan iblis untuk menyesatkan anak cucu adam sampai akhir zaman?
Lantas mengapa kita tak pernah menghina Tuhan?
Tak pernah memerangi Tuhan?
Bahkan untuk protes pun tak pernah.
Padahal Tuhan bisa saja menghilangkan semua kesesatan yang ada di muka bumi ini dengan mudahnya sebagai konsekuensi sifat Maha KuasaNya.
Adi bing slamet. pernah berpikir seperti itu?
Iya benar.
Adi bing slamet harusnya membenci Tuhan.
Pernah menonton infotainment?
Tahu tentang berita adi bing slamet kontra eyang subur?
Pertikaiannya.
Saling menuduhnya.
Pembelaan dirinya.
Dramanya!!!
Jawabannya pasti pernah.
Bahkan orang yang benci menikmati acara gosip seperti saya pun pernah.
Bukan hanya pernah, saya bahkan tahu secara rinci dramanya.
Bagaimana tidak.
Tayangan tv kita seakan-akan memaksa kita menikmatinya.
Tiap harinya hanya soal itu terus-terusan ditayangkan.
Kita dicekoki tiap episode drama tersebut.
Tanpa ada pilihan menu lainnya.
Entahlah, mungkin jurnalis Indonesia sedang miskin berita sampai-sampai harus sesibuk itu menyebarkan berita tak berkualitas seperti itu.
Simak drama ini.
Pertikaan antara mantan murid dan sang guru spiritiual.
Cerita yang diperankan oleh adi bing slamet sebagai sang murid dan eyang subur sebagai sang guru spiritual.
Yang entah mengapa tiba-tiba si murid murtad dari gurunya.
Bahkan mengatakan sang guru sesat, cabul, suka memeras, dan hal buruk lainnya.
Dan sang guru menangkisnya dengan melaksanakan acara maulid sambil membagi-bagikan uang pada anak-anak yatim..
Seakan-akan menjelaskan bahwa dirinya seorang islam dan dermawan.
Membiarkan para pionnya berteriak membelanya.
Kebiasaan seorang raja.
Ada satu hal yang menggelitikku dari drama ini.
Latar belakang berkoar-koarnya sang murid.
Atas nama agama dan umat.
Menabuh genderang perang pada sang guru spiritual.
Eyang subur yang dianggap menyebarkan kesesatan pada umat.
Adi bing slamet mengajak umat islam lainnya memerangi eyang subur juga.
Alasannya simpel.
Sebagai umat islam kita tidak boleh membiarkan jika ada yang ingin menyesatkan umat islam.
Jika tidak, itu sama saja sesat katanya.
Kalau seperti itu katanya.
Harusnya umat islam juga membenci Tuhan.
Bukankah Tuhan yang membiarkan kesesatan untuk pertama kalinya?
Bukankah Tuhan yang mengijinkan iblis untuk menyesatkan anak cucu adam sampai akhir zaman?
Lantas mengapa kita tak pernah menghina Tuhan?
Tak pernah memerangi Tuhan?
Bahkan untuk protes pun tak pernah.
Padahal Tuhan bisa saja menghilangkan semua kesesatan yang ada di muka bumi ini dengan mudahnya sebagai konsekuensi sifat Maha KuasaNya.
Adi bing slamet. pernah berpikir seperti itu?
Iya benar.
Adi bing slamet harusnya membenci Tuhan.
Selasa, 12 Maret 2013
negeri kita memang senang bercanda
Temanku,
Kita bersyukur hidup di
negeri ini.
Tak akan pernah stres.
Akan selalu ceria.
Temanku,
Sadarkah kamu jika negeri
kita ini senang bercanda?
Makanya penduduknya senang
tertawa.
Menertawakan sesuatu hal yang
tak pantas ditertawakan.
Lihatlah negeri kita.
Kekayaan alam kita melimpah.
Manusianya juga banyak yang
cerdas.
Tapi kenapa masih banyak yang
kelaparan.
Masih banyak yang sengsara.
Ini lelucon kan?
Lihatlah calon-calon pemimpin
yang kita punya.
Kita punya seorang raja
dangdut.
Kita punya seorang biduanita yang kerap berpenampilan seksi.
Kita punya seorang pesulap.
Kita juga punya seorang yang
ahli dalam bersumpah pocong.
Mereka semua hendak menjadi
pemimpin di negeri kita.
Ini juga lelucon kan??
Lihatlah si presiden kita.
Dia sangat sibuk.
Sibuk mengurusi partainya
sendiri.
Sibuk keluar negeri.
Sibuk membuat lagu untuk
album musiknya.
Serta sibuk mengeluhkan
gajinya yang katanya kecil.
Ini lebih lelucon lagi kan?
Temanku,
Negeri kita memang terlalu
sering bercanda.
Sampai-sampai lupa untuk serius.
Serius mengatasi konflik
sesama kita.
Serius mengatasi kemiskinan.
Serius mengatasi korupsi yang
makin meraja lela.
Temanku,
Negeri kita harus kembali
serius.
Negeri kita bukan pelawak.
Negeri kita ini adalah surga.
tukang pos pun tak pernah mengeluh
Aku selalu heran.
Tentang kamu yang selalu
meminta maaf.
Meminta maaf untuk sesuatu
yang benar-benar tak saya mengerti.
Dan mungkin tak akan pernah
mengerti.
Kamu selalu bilang.
Merasa tidak enak hati.
Terlalu sering merepotkan.
Terlalu sering membuat pusing.
Aku pun selalu bilang.
Aku tak pernah merasa
direpotkan.
Aku tak pernah mengeluh.
Aku senang ada untuk kamu.
Coba lihat tukang pos itu.
Tiap hari dia mengantarkan
surat.
Kemana pun surat itu bertuju.
Seberat apapun jalannya.
Dia tak merasa direpotkan.
Dan tak pula mengeluh.
Lantas kenapa kamu masih
sesungkan itu?
Itu sudah tugasku.
Memastikanmu baik-baik saja.
Membuatmu senang bahagia.
Dan menjaga senyuman yang
melekat di bibir manismu.
Sayang...
Tukang pos itu pun tak akan
mengeluh.
Walau kamu memintanya
mengantar surat ke ujung dunia.
Begitu pula denganku.
Tak akan mengeluh.
Tetap ada di sampingmu.
Menjalankan tugasku.
Aku tak akan kalah dengan
tukang pos itu.
kamu itu candu
Obat itu mahal.
Untuk periksa ke dokter pun
juga demikian.
Bahkan ke dukun pun butuh
biaya.
Kalau aku sakit?
Demam?
Sakit kepala?
Aahhhh. Aku masih punya kamu.
Kalau jiwaku sedang tak tenang?
Marah?
Gelisah?
Sedih?
Aku masih punya kamu sebagai
penenangku.
Sekarang aku sadar.
Aku tak butuh dokter.
Tak butuh obat.
Tak butuh dukun.
Ada kamu sebagai obatku.
Ada kamu sebagai canduku.
Aku cuman butuh kamu.
Langganan:
Postingan (Atom)